| starYOX | Distro Ikon Kota Bandung |

Libur panjang akhir tahun, membuka kesempatan bagi warga Jakarta berlibur ke luar kota. Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi salah satu sasaran utama dari warga Metropolitan. Serbuan warga Ibu Kota membuat Kota Kembang jadi penuh sesak.

Jalan-jalan di Kota Bandung seperti Jalan Trunojoyo, Ciampelas, dan Juanda, sesak oleh wisatawan. Para pelancong menyerbu deretan distro yang menjual berbagai pakaian dan juga aksesorisnya seperti ikan pinggang, topi, dompet, sandal, dan juga sebagainya.

Bandung sebagai kota pusat distro dikenal sebagai tempat yang nyaman bagi wisatawan Jakarta untuk berlibur. Hawa yang sejuk, ditambah deretan distro dengan restoran dengan desain alami dan kreatif membuat wisatawan betah menghabiskan waktu di Kota Kembang.

Ditro tidak hanya menjual pakaian untuk orang dewasa. Distro yang menjual pakaian untuk bayi pun mulai bermunculan. Salah seorang pemilik distro mengaku membuka distro khusus bayi karena ingin anak dan ibu berpenampilan sama yakni mengenakan baju bikinan distro.

Peminat distro khusus untuk bayi relatif bagus karena belum banyak distro sejenis. Hingga saat ini, distro khusus bayi bisa dihitung dengan tangan. Yang membuat orang lebih tertarik lagi, gambar kaos untuk bayi dilukis tangan yang menyerupai lukisan anak.

Perkembangan distro memang sangat dinamis, terutama di Bandung. Distro memang mulainya di Bandung, yang dikenal sebagai kota tekstil atau garmen. Kota berjuluk Paris Van Java ini sekarang sudah menjadi pusat industri kreatif yang sangat berkembang dan dinamis.

| starYOX | Piala Dunia Afrika Selatan 2010 |

Penikmat pesta sepak bola Piala Dunia boleh tersenyum lega. Electronic City Entertainment (ECE) selaku pemegang hak siar Piala Dunia 2010 sudah menetapkan salah satu grup pemilik stasiun televisi terestrial sebagai mitra untuk menyiarkan pertandingan sepak bola akbar empat tahunan itu.

“Yang ambil Global TV sama RCTI. Keputusan ECE itu sudah final,” kata sumber Kontan yang mengetahui transaksi tersebut, pekan lalu. Sekadar informasi, ECE sempat menawarkan hak siar Piala Dunia 2010 tersebut kepada RCTI, SCTV, Indosiar, dan Trans Corp.

Saat dikonfirmasi, Gilang Iskandar, Sekretaris Perusahaan Media Nusantara Citra (MNC), perusahaan yang menaungi RCTI dan Global TV, menolak memberi komentar. Namun, ia juga tidak membantah kabar itu. “Sekarang saya belum bisa kasih komentar, pada saatnya nanti akan saya sampaikan,” elaknya.

Berbagi keuntungan

Jawaban lebih jelas justru datang dari Presiden Direktur PT Global Mediacom Tbk Hary Tanoesoedibjo. “Saya katakan, MNC pasti terlibat dalam menyiarkan Piala Dunia 2010, tidak dengan stasiun televisi lain,” tegas Hary.

Sekadar catatan, Global Mediacom merupakan induk perusahaan MNC. Namun, Hary menolak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kerja sama antara MNC dan ECE tersebut. “Saya belum bisa menyampaikan lebih detail kerja samanya karena saya terikat klausul confidential,” imbuh Hary.

Asal tahu saja, penjualan lisensi hak siar Piala Dunia di Indonesia kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. ECE, sebagai pemegang hak siar Piala Dunia 2010 di Indonesia, tidak melakukan tender terbuka dalam mencari mitra penyiaran.

ECE lebih memilih mendekati langsung beberapa stasiun televisi. ECE juga tidak berniat menjual putus siaran pertandingan tersebut. Nantinya, ECE dan stasiun televisi yang menyiarkan akan berbagi keuntungan dari pendapatan iklan yang diperoleh selama penyiaran Piala Dunia. Dengan demikian, bisa dipastikan ECE akan memilih stasiun televisi yang menawarkan porsi pembagian laba paling menarik.

Namun, berapa besar penawaran pembagian laba yang diajukan MNC masih belum jelas. Pihak MNC belum bersedia menjelaskan soal pembagian keuntungan ini secara detail. Sementara itu, Direktur Penjualan dan Pemasaran ECE Fary Farghob sendiri lebih memilih bungkam.

Nilai hak siar Piala Dunia 2010 tentu lebih mahal dari hak siar Piala Dunia 2006 yang kala itu dipegang SCTV. Menurut kabar yang beredar, SCTV saat itu sedikitnya membayar 10 juta dollar AS untuk mendapatkan hak siar itu.

Angka itu melonjak dua kali lipat ketimbang harga beli hak siar Piala Dunia 2002, yang saat itu disiarkan oleh RCTI. Saat itu, harga hak siar baru sebesar 5 juta dollar AS. (Gentur Putro Jati/Kontan)